Sabtu, 01 Maret 2014

akibat durhaka pada ibu part 2

Scene 6
            FADE IN-FADE OUT : SUARA PETIR MENGGELEGAR DISERTAI HUJAN DERAS.
NARRATOR                : Pada malam hari hujan turun dengan Derasnya. Petir pun menggelegar dengan kencangnya. Ibu Rahma terlihat tidur dengan pulasnya. Terlihat Vina tengah mempersiapkan pakaiannya untuk berangkat ke Jakarta malam itu juga. Setelah selesai Ia gelisah karena hujan tak kunjung reda.
Vina                : Duh, hujan terus deras lagi mana nggak terang-terang gimana nih?? Masa aku batalin berangkat ke Jakarta
Kemudian ia pun melihat jam di kamarnya. Terlihat jam menunjukkan pukul setengah satu petang. Ia pun melihat tiketnya. Dan di tiket tersebut tertulis pukul satu tepat.
Vina                : Apa?? Jam satu. Waduh aku harus berangkat sekarang nih. Bisa-bisa aku ketinggalan bis ntar.
Diam-diam Ia menuju kamar Bu Rahma untuk mengambil uang di saku lemarinya untuk biaya transportasi ke Jakarta. Tiba-tiba ketika hendak mengambil uang itu. Mendadak ibunya terbangun. Seketika Ia mengumpat di bawah kasur Ibunya.
Bu Rahma       : Siapa itu??
Vina                : Meong… Meong…
Bu Rahma       : Vin. Kamu dimana?? Kamu jangan ke Jakarta nak. Ibu mohon… (sambil menangis)
Vina pun melihat ibunya tengah mengigau ternyata. Seketika Ia pun mendekat dan membuat ibunya pulas kembali.
Vina                : Bu, Vina disini, di samping Ibu. Vina janji Vina nggak bakalan ke Jakarta kok. Ibu percaya sama Vina ya. Vina udah mbatalin tiketnya. Vina bakalan nemenin Ibu di sini kok.
Bu Rahma       : (Memeluk Vina) Makasih nak, kamu memang baik.. Ibu saying sekali sama kamu.
Vina                : Bu, ibu tidur yang nyenyak ya. Vina temenin di sini. Vina takut di kamar sendirian. Apalagi hujannya deras sekali Bu. 
Bu Rahma       : Iya nak. Makasih. Ibu senang sekali mendengarnya. Tidur di sini saja nak. Biar Ibu yang tidur di bawah.
Vina                : Nggak usah Bu. Nanti Ibu sakit. Biar Vina tidur di bawah saja. Ibu tidur di sini saja.
Ibu Rahma      : Tapi, Ibu takut kamu sakit nak. Ibu nggak papa kok. Apalagi cuaca dingin sekali. Ibu takut kalau kamu kedinginan tidur di sana.
Vina                : Vina nggak papa Bu. Ibu tidur sini saja ya?? Biar nggak kedinginan. Vina kuat kok.
Ibu Rahma      : Makasih Nak. Kamu ternyata anak yang baik. Maaf kalau tadi sore Ibu membentak kamu.
Vina                : Gak papa Bu. Vina nggak marah kok. Udah ibu tidur dulu. Vina masih belum ngantuk kok. Vina janji Vina bakalan jagain Ibu.
Ibu Rahma      : Ya nak. Ibu bakalan tidur kok. Jangan tidur malem-malem ya nak. Biar besok gak kesiangan solat subuhnya.
Vina                : Iya Bu. Vina janji.
Tak lama berselang, Bu Rahma tertidur dengan pulas. Vina pun mengambil beberapa ratus ribuan di saku lemari Ibunya untuk biaya perjalanan ke Jakarta dan menguncinya kembali lalu meninggalkan rumah dengan mengendap-endap. Tak lama kemudian Ia memanggil tukang ojek yang terletak tidak jauh dari rumahnya untuk menuju ke terminal yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di terminal Ia pun langsung naik bis untuk menuju ke kota Jakarta.




Scene 7 
FADE IN-FADE OUT : SUARA AYAM BERKOKOK.
Narrator : Ayam jago pun berkokok. Matahari pun mulai menunjukkan sinarnya. Hujan mulai reda dan pagi pun terlihat begitu cerah. Ibu rahma terlihat tengah menghidangkan makanan untuk Vina. Terlihat ia bergegas untuk memanggil Vina di kamarnya.
Ibu Rahma      : (Mengetuk pintu) Nak, ayo makan. Ibu buatin sayur lodeh sama ikan patin kesukaanmu.
Terlihat tidak ada jawaban . Ibu pun memanggilnya lagi.
Ibu Rahma      : Nak… (mencoba masuk kamarnya). Astagfirullah. Vin. Kamu kemana nak??
Bu Rahma pun mencari ke sekeliling rumah. Tapi, Vina tetap tak ada. Ia pun gelisah dan buru-buru hendak meninggalkan rumah. Tatkala ia hendak meninggalkan rumahnya, Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Dan setelah ia Buka, ia adalah Bambang, Teman dekat Vina.
Bambang         : Assalamualaikum Ibu
Ibu Rahma      : Wa’alaikumsalam nak. Wah kamu lama tak main ke sini lagi.
Bambang         : Wah iya bu, kebetulan Bambang lagi membantu bapak buat membuka usaha kelontong di pasar Bu. Jadi jarang mampir kesini.
Ibu Rahma      : Ada apa kamu kesini nak?? Bawa apa kamu??
Bambang         : Ini bu, kebetulan ada sedikit rejeki dari Bapak buat Bu Rahma. Kebetulan ada sembako sisa bulan ini dan sejumlah uang. Ya buat kebutuhan Ibu sehari-hari kan lumayan bu.
Ibu Rahma      : Wah Alhamdulillah nak. Terima Kasih ya. Salam buat bapakmu.
Bambang         : Oh ya bu. Tadi malam saya lihat Vina keluar malam-malam naik ojek memangnya Ia mau kemana ya??
Ibu Rahma      : Apa?? Vina keluar. Jangan-jangan??
Bu Rahma pun berlari untuk mengecek kamar Vina. Dan ternyata benar. Terlihat beberapa pakaian Vina pun sudah dibawa. Termasuk perhiasan-perhiasannya. Ia pun sedih dan menangis. Dan tak lama kemudian Bambang pun masuk ke rumah Ibu Rahma.   
 Bambang        : Bu… (Masuk ke Kamar Vina) Ibu kenapa menangis Bu, ada apa??
Ibu Rahma      : Ibu nggak nyangka nak. Ternyata Vina jadi berangkat ke Jakarta. Pantas tadi malam perasaan Ibu tidak enak.
Bambang         : Vina ke Jakarta Bu. Acara apa??
Ibu Rahma      : Dia keterima di perusahaan swasta terkenal di sana. Dia berada di bagian manajer marketing. Sebenarnya Ibu sudah melarangnya. Tapi, Ia terus ngotot dan ingin sekali bekerja di sana. Akhirnya tadi malam Ia pun berangkat. Kamu tahu perusahaan tempat kerjaan Vina, Nak??
Bambang         : Waduh saya tidak tahu Bu. Apalagi saya juga jarang bertemu Vina beberapa bulan terakhir ini. nanti saya bantu untuk mencarikan tempat kerjaan Vina, Bu. Yang terpenting sekarang kalau Ibu butuh apa-apa Ibu jangan sungkan untuk bilang ke Bambang ya Bu. Insyallah kalau Bambang mampu buat membantu akan Bambang bantu.
Ibu Rahma      : terima kasih nak Bambang. Nak Bambang memang baik. Nanti kalau sudah tahu alamat kantornya, tolong kasih tau Ibu ya.
Bambang         : Iya Bu. Lebih baik Ibu memohon kepada Alloh. Ibu berdoa semoga Vina di sana baik-baik saja. Dan semoga Ibu bisa bertemu dengan Vina di sana.
Ibu Rahma      : Iya nak. Amin… terima kasih…
Bambang         : Bu, Bambang pamit pulang dulu ya. Bambang masih banyak kerjaan. Assalamualaikum.
Ibu Rahma      : Waalaikumsalam. Hati-hati nak Bambang.



SCENE 8
FADE IN-FADE OUT : SUARA AYAM BERKOKOK
Narrator    : Sudah kurang lebih lima tahun berlalu. Tetapi, Vina sama sekali tidak pernah meneleponnya. Bu Rahma pun cemas dan khawatir tentang keadaannya. Ia juga tidak pernah mengirim apapun, baik itu uang, ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya kepadanya. Hingga akhirnya suatu ketika Bambang berkunjung ke rumahnya dan mengetahui alamat lengkap tempat dimana Vina bekerja.
Bambang         : Assalamaualaikum.
Bu Rahma       : Wa’alaikum salam. Warohmatullahi Wabarakatuh. Eh nak Bambang. Mari masuk nak.
Bambang         : Disini saja nggak papa bu. (Malu).
Bu Rahma       : Udah nggak usah malu-malu. Masuk aja.
Bambang         : Iya bu (masuk ke ruang tamu).
Bu Rahma       : Ada apa nak?? Tumben pagi-pagi sekali kamu kesini.
Bambang         : Begini, Bu kebetulan saya tahu tempat Vina bekerja di Jakarta. Ini alamatnya, Bu. (memberikan secarik kertas kepada Bu Rahma).  
Bu Rahma       : (Senang dan terharu) Alhamdulillah, terima kasih ya Alloh. Akhirnya Engkau  memberikan jalan untuk mempertemukan aku dengan anakku setelah sekian lama. Dari mana kamu tahu alamat Vina bekerja, Nak.??
Bambang         : Begini, Bu kemarin saya bertemu dengan Rima, teman SMA Bambang. Kebetulan ia satu perusahaan dengan Vina. Jadi Ia tahu dimana Vina bekerja.
Bu Rahma       : Makasih nak Bambang, Kalau gitu sekarang Ibu pesen tiket buat berangkat nanti malam ke Jakarta.
Bambang         : Bu, Bambang ikut ya??
Bu Rahma       : Nak, kamu disini saja. Kamu sudah bantu banyak buat Ibu. Lagian kamu kan harus bantu bapakmu mengurus took kelontong.
Bambang         : Nanti Bambang ijin sama bapak, Bu. Lagian juga udah ada Mas Andi kok. Dia juga sering banget bantu bapak sama Ibu Bambang.
Bu Rahma       : Waduh, nak. Nggak usah repot-repot. Ibu berangkat sendiri gak papa kok. Kamu tenang saja.
Bambang         : Bambang takut Ibu kenapa-kenapa Bu. Apalagi Ibu kan sendirian. Kebetulan Bambang ada temen sama Saudara disana. Siapa tahu Mereka bisa menolong kita mencari alamat ini.
Bu Rahma       : Wah, kebetulan sekali nak. Ya sudah kamu bilang dulu sama bapak dan ibumu sana. Biar mereka berdua nggak khawatir. Nanti habis itu tolong anterin Ibu ke terminal ya nak?? Nanti malam sehabis sholat Isya, kita berangkat bareng-bareng ke Jakarta.
Bambang         : Kalau gitu, Bambang pulang dulu ya Bu. Assalamualaikum. (Menyalami Bu Rahma kemudian bergegas pamit).
Bu Rahma       : Wa’alaikum salam. Hati-hati ya nak.
SCENE 9
FADE IN FADE OUT : SUASANA KERAMAIAN DAN KEBISINGAN
Narrator         : Malam Harinya, Bu Rahma dan Bambang pun berangkat menuju Jakarta. Mereka Tiba di kota tersebut pada pagi hari. Setelah menjalankan solat Subuh, mereka berdua kemudian mencari-cari alamat tempat Vina bekerja. Setelah berputar-putar di kota metropolitan tersebut, akhirnya mereka berdua menemukan alamat Vina bekerja.
Bambang         : Lihat Bu, ini tempat Vina bekerja. (Senang) Ibu lihat alamatnya sama persis di kertas ini. (sambil menunjuk kertas ke arah Bu Rahma).
Bu Rahma       : Iya nak. Sama persis (senang). Kalau gitu ayo kita masuk.
(Mereka berdua pun akhirnya masuk ke kantor itu. Di dalam mereka bertanya ke bagian informasi).
Bu Rahma                   : Permisi mbak, apakah Vina bekerja di perusahaan ini??
Bagian informasi         : Maaf Ibu siapa?? Vina siapa??
Bambang                     : Begini, mbak. Ibu ini anaknya mbak Vina. Kebetulan sudah hamper 5 tahun tidak bertemu dengan mbak Vina. Jadi ibu ini mau bertemu dengan anaknya. Kebetulan ini alamat dimana Vina bekerja.
Bu Rahma                   : Benar mbak, nama anak saya Vina Candrawinata Puspitasari.
Bagian Informasi        : Owalah. Bu Vina. Maaf apakah Ibu dan bapak sudah membuat janji??
Bu Rahma                   : Memang kalau bertemu harus membuat janji dulu ya mbak??
Bagian Informasi        : Disarankan buat Ibu dan Bapak membuat janji dengan Ibu Vina dahulu sebelum bertemu Bu Vina. Karena Bu Vina adalah manajer perusahaan ini. Sebentar saya panggilkan Bu Vina dulu ya.  Silahkan Ibu sama Bapak untuk menunggu di ruang tunggu.
Dan tak lama kemudian Vina turun ke bawah. Bu Rahma seketika senang dan langsung memeluk Vina.
Bu Rahma       : Vina, Annakku (memeluk Vina). Kamu selama ini kemana saja nak??
Vina                : Apaan sih (mendorong Bu Rahma hingga jatuh). Siapa Lu??
Bu Rahma       : Astaghfirullah Nak. Ini ibumu, nak. Kamu lupa??
Vina                : Siapa lu. Gua udah kagak punya Ibu lagi. Ibu gua udah meninggal.
Bambang         : Vina….!!! (membangunkan Bu Rahma) Kurang ajar kamu sama ibumu sendiri. Ini ibumu!!! Sudah lama ia tidak pernah bertemu denganmu. Malah kamu perlakukan seperti ini.
Vina                : Siapa lu?? Jangan ikut-ikutan urusan gua lu. Mending lu bawa ibu tua ini pulang!!!
Bambang         : Astagfirullah hal adzim… Tega-teganya kamu menghina Ibumu sendiri. Ini ibumu Vin. Ibu yang telah membesarin kamu.
Vina                : Mending kalian berdua keluar dari kantor ini sekarang!!! Atau gua panggilin satpam buat ngusir kalian berdua. SATPAM!!!
Satpam            : Ada apa bu??
Vina                : usir mereka berdua. Mereka udah mengganggu urusan saya.
Satpam            : Baik, bu. Kalian berdua ikut saya. (menggeret Bambang dan Ibu Rahma).
Bu Rahma       : Pak, pak saya Cuma mau ketemu anak saya, pak. Sebentar pak. Saya udah lama nggak bertemu anak saya.
Satpam            : UDAH KELUAR KALIAN!!!! KALIAN UDAH MENGANGGU PEKERJAAN BU VINA!!!
Mereka berdua akhirnya diusir dari kantor tersebut.
SCENE 10        
FADE IN FADE OUT : SUASANA KERAMAIAN KOTA
Narrator    : Bu Rahma dan Bambang diusir dari tempat bekerja Vina. Ibu Rahma tidak percaya bahwa perlakuan anaknya sungguh jauh berbeda 180 derajat, tidak seperti dulu lagi. Bambang mencoba menenangkan Bu Rahma.
Bambang         : Sabar, Bu. Semoga Vina cepat mendapat hidayah dari Alloh ya Bu.
Ibu Rahma      : Ibu tidak menyangka jika Vina berubah 180 derajat, nak. Dulu dia baik sekali sama Ibu. Kalo bicara dia santun sekali. Tapi,sekarang sejak ia bekerja di Jakarta perilakunya berubah. Ibu nggak nyangka, nak.
Bambang         : Yan anti biar Bambang yang mencoba untuk menjelaskan ke Vina bu.
Bu Rahma       : Terus kita sekarang mau kemana nak Bambang??
Bambang         : kita coba cari tahu alamat rumahnya Vina Bu. Biar kita tahu di mana Ia tinggal. Siapa tahu kita bisa silahturahmi kesana.
Bu Rahma       : ya sudah. Ini sudah mulai masuk ashar. Kita solat dulu saja nak bambang. Paling sebentar lagi juga Vina pulang. Kita tunggu dia keluar dari kantornya. 
Bambang         : Iya bu. Kita tunggu Vina pulang saja. Lalu kita ikutin kemana dia pergi.
Ternyata Vina lama sekali keluar dari kantornya. Ketika Mereka hendak menunaikan solat Isya, Vina tiba-tiba muncul dan keluar dari kantornya.
Bu Rahma       : nak, kita solat dulu saja nak. Sambil menunggu Vina pulang.
Bambang         : Sebentar, Bu. Itu Vina bu. Dia baru saja keluar dari kantornya.
Bu Rahma       : Wah iya nak. Ayo kita ikutin dia.
Bambang         : Tapi pakai apa, Bu. Angkutan disini sepi sekali?? Mana ojek juga tidak ada lagi.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka berdua.
Rima                : (Membuka kaca spion) Mas Bambang…!!!
Bambang         : Eh, Rima. Kebetulan sekali kamu.
Rima                : Mas ngapain disini?? Siapa Ibu itu??
Bambang         : Oh iya ini Bu Rahma, Rim. Ibunya Vina. Dia ingin sekali bertemu dengan Vina. Apalagi udah 5 tahun Vina tidak pernah memberikan kabar ke ibunya.
Bu Rahma       : Nak, kamu tahu rumahnya Vina nggak??
Rima                : Tahu, Bu. Kebetulan rumah saya dekat sama rumah Vina. Mari saya antar.
Bu Rahma       : Wah terima kasih nak. Kamu baik sekali.
Bambang         : Ya sudah kalau gitu tolong kami antarkan ke rumah Vina ya Rim.

Rima                : Iya mas. Ayo masuk. Nanti keburu larut malam. 

Naskah akibat durhaka kepada Ibu part 1

Naskah Berjudul : Akibat Durhaka kepada Ibu
Penulis        : Muh. Dwi Ari Purwa (IAIN Walisonogo SMG jurusan KPI)
Scene 1
Fade in-Fade Out : Suara keramaian Mahasiswa di Kampus
Narrator : Adegan diawali dengan menampilkan seorang ibu dengan berpakaian sederhana dengan membawa gerobak sayurnya datang ke sebuah Universitas Negeri di Medan. Ia bernama Bu Rahma. Kehadiran beliau di kampus tersebut untuk bertemu dengan anaknya yang telah menyelesaikan kuliahnya tahun ini. Tatkala prosesi wisuda berakhir ia berniat untuk menemui anaknya, Vina. Namun apa daya tatkala menemui Vina, justru beliau meliat teman-teman Vina mengejeknya di hadapan teman-teman yang lain.
Dian                : Eh guys, lihat tuh Si Culun sama ibunya. (menunjuk ke arah Vina)
Okta                : mana-mana yan, bener juga. Ternyata ibunya si Culun sama kaya si Culun. Sama-sama kampungan. Hahaha…
Nita                 : Guys-guys, gimana kalo kita kerjain mereka berdua.
Dian dan Okta : Caranya gimana??
Nita                 : Udah kalian ikut gua aja.
(Mereka pun mulai mendatangi Vina dan Bu Rahma)
Nita                 : Eh ada Si Culun sama ibunya. Sama-sama culun sama-sama kampungan lagi.
Vina                : Ngapain kalian?? Nggak bosan-bosan nya ya kalian ngejek aku.
Dian                : Eh teman-teman (menepuk tangannya) tahu gak kalo ternyata mahasiswa berprestasi se Fakultas Ekonomi di universitas ternama ini adalah si culun. Dan asal kalian tahu siapa ibu dari si culun ini?? Ia adalah tukang sayur. Tukang sayur yg tiap hari kerjaannya jualan sayur ke orang-orang sekitar.
Okta                : Owalah pantesan yak ok kita nggak sadar ya selama ini ternyata ibunya aja kampungan, jorok, najis beribu najis deh….
Nita                 : Eh tahu nggak sih guys, Si Culun waktu kuliah pernah pipis dan berak di celana. Dan tahu nggak sih ternyata si culun itu takut sama kecoak dan tikus. Padahal scara di rumahnya kan kandangnya kecoak sama tikus.
Dian                : wah jangan-jangan bapaknya juga sama seperti Dia ya. Sama-sama dari “gembel”
(Vina pun berlari meninggalkan Kampus tersebut dengan menangis. Dia merasa diinjak-injak harga dirinya. Tiba-tiba… )
PLAKK…! (Ibu Rahma menampar pipi Dian)
Ibu Rahma      : Sudah puas kalian mengejek dan menghina keluarga kami. Asal kalian tahu saya bangga karena Walaupun saya jualan sayur tapi saya bisa menyekolahkan anak saya hingga sekarang ini. Apalagi anak saya mendapatkan gelar terbaik se Fakultas Ekonomi di Universitas ini. Kalian harusnya malu kenapa kalian tidak mampu bersaing dengan anak saya. Bukan malah mengejek kami.
Dian                : Eh nenek lampir. Lu mending urusin tuh jualan sayur. Kagak usah ngurusin urusan kita. Tuh urus anak lu yang culun tuh ajarin gimana caranya biar kagak berak ama pipis di celana lagi. Ya nggak friend??
Ibu Rahma      : mungkin di mata kalian menganggap kita adalah keluarga yang miskin dan terhina tapi asal kalian tahu di mata Allah kita adalah keluarga yang terhormat, mulia dan lebih bermartabat daripada kalian yang tak henti-hentinya menghina keluarga miskin seperti kami.
Nita                 : Eh nenek lampir, lu kalau mau ceramah sono di masjid jangan disini. Lu piker kita suka dengerin ceramah lu. Daripada lu banyak ceramah di sini nenek lampir mending nih urusin dagangan lu (mendekati gerobak ibu Rahma. Diikuti dengan Dian dan Okta)
Ibu Rahma      : Eh.eh mau apa kalian?? Jangan rusak gerobak saya.
Nita                 : Guys, sekali-kali kita harus kasih pelajaran sama si nenek lampir tua ini . Biar tau rasa siapa kita sebenarnya.

Ibu Rahma      : eh jangan-jangan. Jangan rusak gerobak saya. Jangan. Tolong … !!! (menjerit)
(Mereka bertiga pun merusak dan menghancurkan gerobak Bu rahma, bahkan uang hasil penjualan dagangannya pun diembatnya. Teman-teman yang lain pun hanya melihatnya. Karena mereka tau siapa mereka bertiga sebenanya)
Dian                : Guys, ayo kita pulang. (sambil mengibas-ngibaskan uang rampasan hasil jualan Ibu rahma) lumayan buat party ntar sore.
Nita dan Okta             : oke bos. Ntar malam party dimana nih??
Dian                : gampang deh. Pokoknya dijamin puas. Ayo kita tinggalin nenek lampir…
Ibu Rahma      : (Sambil menata dagangan) Ya Alloh berilah kami ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Karena hamba tahu bahwa engkau memberikan cobaan yang tidak mungkin melebihi kemampuan Hamba-Mu ini ya Alloh. Karena hanya kepadamu-lah kami menyembah dan hanya kepada-mu lah kami memohon pertolongan. Vina, anakku. Aku harus segera mengejarnya. Kasihan dia (Pergi membawa gerobaknya dengan langkah terburu-buru). 

Scene 2
Fade in-fade out : Suasana sepi
Narrator : Panggung menggambarkan suasana rumah sederhana tempat Vina dan Bu Rahma tinggal. Terlihat Vina menangis karena tak tahan diejek oleh Dian, Nita dan Okta. Tak lama kemudian Bu Rahma pun datang. Melihat anaknya sedih, Beliau berusaha untuk menghiburnya.
Ibu Rahma      : Sabar nak Sabar. Orang sabar disayang tuhan Nak.
Vina                : Vina udah sabar Bu. Tapi Vina nggak tahan diinjak-injak sama mereka Bu. Hati ini rasanya sakit sekali.


Ibu Rahma      : Ibu minta maaf ya nak, Ibu tak bisa memberikan kamu lebih dari teman-temanmu di kampus. Tapi ibu bangga karena walaupun Ibu hanya jualan sayur keliling, tapi Ibu bisa menyekolahkan kamu hingga lulus perguruan tinggi nak. Apalagi, waktu ibu dengar kamu mahasiswa terbaik se-Fakultas dengan nilai yang memuaskan. Ibu senang nak mendengarnya. Ternyata Alloh mendengar semua doa-doa kita. Andai saja bapakmu masih hidup nak. Mungkin Ia akan senang mendengar berita ini.
Vina                : Ini bukan salah ibu kok. Kecelakaan itu memang takdir yang telah Alloh berikan kepada kita. Tapi, Vina bakal berjanji kepada Ibu setelah lulus Vina bakalan memberikan yang terbaik buat ibu. Jadi ibu nggak usah jualan sayur lagi bu.
Ibu Rahma      : Ibu masih kuat nak. Nih lihat tubuh ibu. Masih seger kok. Pokoknya ibu akan selalu mendukung dan mendoakan kamu agar kamu diberikan yang terbaik di sisi Alloh.
Vina                : nggak bu, ini sudah menjadi tanggung jawab Vina sebagai seorang anak untuk membahagiakan Ibu. Pokoknya Vina janji setelah lulus ini kehidupan kita bisa lebih baik bu. Vina juga akan buktikan ke teman-teman yang telah mengejek Vina kalo Vina bisa menjadi yang terbaik dibandingkan mereka. Doakan Vina ya Bu.
Ibu Rahma      : Ya ibu akan selalu doain kamu. Kamu tidur dulu nak, udah malem. Besok katanya ada Interview.
Vina                : Iya bu, doain vina ya bu. Semoga Vina ketrima disana.
Ibu rahma        : Iya, ibu doakan. Ibu akan selalu mendoakan kamu untuk menjadi yang terbaik. Udah sana tidur…
Vina                : iya bu makasih ya bu. Vina tidur dulu ya bu (mencium kening ibunya kemudian masuk kamar dengan senangnya)
Ibu rahma        : jangan lupa berdoa dulu nak…
Vina                : Pasti bu Vina nggak lupa kok (mematikan lampu dan menutup kamarnya).



Ibu rahma        : Ya allah berikanlah kemudahan pada Anak hamba agar diterima di perusahaan besok ya allah. Amin.
Scene 3
Narrator : Panggung menampilkan Suasana perusahaan yang ramai dikunjungi oleh pelamar kerja. Terlihat Vina sedang duduk sambil menunggu panggilan interview. Sambil menunggu Vina tak lupa berdoa sambil membaca-baca buku.
Vina    : ya Allah mudahkanlah hamba dalam test interview ini. Semoga hamba bisa diterima di perusahaan ini ya Alloh.
(Tiba-tiba Ia bertemu dengan Nita, Dian dan Okta)
Dian    : Eh, ada si Culun??
Okta    : Lu ngapain di sini lun?? Mending lu bantu ibu lu yang bentar lagi mau sekarat sono.
Vina    : Kalian nggak henti-hentinya ngejek keluargaku ya. Kalian jahat… !!!
Nita     : (memegang kerah Vina dengan erat) Lu lupa lu urusan sama siapa heh?? Asal lu tau perusahaan ini membutuhkan orang seperti kita-kita bukan orang kaya lu. Udah culun kampungan, kalo jalan lihatnya kebawah lagi kaya orang bego!!!
Vina    : O ya, Nggak juga tuh. Kalian salah. Aku yakin aku bisa diterima di perusahaan ini kok. Dan aku yakin orang seperti kalian nggak cocok kerja di perusahaan ini.
(tiba-tiba direktur memanggil Nama Dian, Nita dan Okta)
Nita     : Kita lihat aja nanti. Apakah perusahaan ini membutuhkan orang seperti kita bertiga apa lu orang yang culun, kampungan yang suka pipis dan berak di celana?? (sambil mendorong Vina hingga jatuh)



(Mereka bertiga pun masuk)
Vina    : ya Alloh berilah Hamba kesabaran dan ketabahan menghadapi keberingasan dan kejahatan mereka bertiga. Hanya kepadamu-lah kami menyembah ya Alloh. Amin.
Scene 4
Narrator    : Vina keterima di perusahaan tersebut. Ia keterima di bagian Manajer Accounting. Ia pun senang apalagi besok Ia sudah mulai bekerja. Sore hari setelah interview, Ia pun menceritakan hal tersebut kepada Ibunya.
Vina                : Bu, Alhamdulillah aku diterima di perusahaan kemarin. Aku keterima di bagian Manajer Accounting.
Ibu Rahma      : Wah Alhamdulillah nak. Alhamdulillah ya Alloh ternyata Engkau mengabulkan doaku. Terimas kasih, nak.
Vina                : Alhamdulillah bu, ternyata Gusti Alloh telah mengabulkan doa Vina, Bu. Apalagi, besok Vina udah mulai kerja Bu. Berarti mala mini waktunya Vina buat Packing nih.
Ibu Rahma      : (Kaget). HAH, Packing?? Emangnya kamu mau kemana nak. Apalagi ini udah mau magrib. Kamu udah solat ashar belum nak??
Vina                : Ya bu Vina mau Packing dulu. Nanti malam Vina mau pergi ke Jakarta. Besok Vina udah mulai kerja disana. Doain Vina ya Bu.. Nanti Vina bakal ngabarin Ibu tiap hari.
Ibu Rahma      : (Kaget) Apa?? Kamu mau ke Jakarta. Kenapa jauh sekali nak?? Kenapa kamu tidak cari di sekitar sini saja??
Vina                : Ini mungkin sudah menjadi jalan hidup Vina Bu.
Ibu Rahma      : (memotong pembicaraan dengan memegang pundak Vina dan memelototinnya) Tapi Nak, Jakarta itu kota yang keras. Pergaulan mereka sangat bebas. Ibu takut kamu kenapa-kenapa?? Sudahlah kamu cari yang lain saja ya??
Vina                : Bu, Vina udah besar. Vina tau kok mana yang baik, mana yang enggak. Mungkin ini udah jalan yang Alloh berikan pada Vina. Ibu tenang saja. Nggak usah khawatir.
Ibu Rahma      : Tapi kenapa harus di Jakarta nak?? Kenapa harus di situ. Apalagi keluarga dan saudara kita tidak ada yang tinggal di sana. Sudahlah, batalkan saja niatmu untuk kerja di sana??
Vina                : Ibu kenapa sih kok ngelarang-ngelarang Vina buat kerja di sana?? Vina udah gedhe. Ini semua buat keluarga kita. Vina nggak mau diejek-ejek sama teman-teman lagi. Apalagi Vina lihat Ibu udah mulai sakit-sakitan. Vina janji nanti kalau ada waktu buat pulang. Vina bakalan pulang Bu. Apalagi Vina udah pesen tiket buat ke Semarang Bu.
Ibu Rahma      : (terkejut) Apa??? Kamu udah pesen tiket ke Jakarta?? Kamu udah gila ya nak??  (membentak) kenapa kamu nggak bilang sama Ibu sebelum kamu pesen tiket itu??
Vina                : (memohon dengan bersujud dan memegang tangan Ibu) Bu, ini demi kehidupan kita. Lagi pula Vina ingin sekali bisa bantuin Ibu. Bu, ijinin Vina buat pergi ke Jakarta ya. Vina minta tolong.
Bu Rahma       : (Membentak dan mendorong Vina) IBU NGGAK MAU KAMU PERGI KE JAKARTA…!!!! UDAH SANA MASUK KAMAR TERUS SOLAT ASHAR. UDAH MAU MENJELANG MAGRIB MASIH AJA DI SINI… JANGAN LUPA TIKETNYA DIBATALIN… 
Vina                : IBU JAHAT… !!! TEGA-TEGANYA IBU BENTAK VINA…         
Ibu Rahma      : KAMU BERANI YA MEMBENTAK IBUMU SENDIRI!!! MASUK KAMAR SEKARANG JUGA !!! (Mendorong Vina hingga terjatuh). 
Scene 5
Narrator    : Bentakan dan dorongan Ibu Rahma membuat Vina menangis. Seketika Ia masuk Kamar dan menutup pintu dengan sekeras-kerasnya. Ibunya yang merasa bersalah mencoba mendekat ke kamarnya.
Ibu Rahma      : (Berbicara dengan hati) Astagfirullah, ampuni dosaku ya Alloh. Aku telah membuat anakku kecewa.
Kemudia Ibu Rahma mulai mendekat ke kamar Vina.
Ibu Rahma      : (mengetuk kamar) Vin, Buka nak, Ibu mau ngomong bentar.
Vina                : Ngapain Bu?? Mau marah-marahin Vina lagi??
Ibu Rahma      : Ibu mau minta maaf. Tadi Ibu nggak sengaja.
Terlihat pintu tak dikunci Ibu rahma pun masuk.
Vina                : Ibu ngapain masuk??
Ibu Rahma      : Nak, tolong dengerin Ibu ya, tolong kamu batalkan niatmu buat ke Jakarta. Ibu mohon.
Vina                : Mending Ibu keluar dari kamar Vina. Vina mau istirahat.
Ibu Rahma      : Nak, kamu udah solat ashar?? Sholat dulu nak??
Vina                : Ibu nggak usah sok ngatur-ngatur aku deh…!!!
Ibu Rahma      : Astagfirullah (mengelus dada). Apa yang terjadi sama kamu nak?? Kok kamu bilang gitu sama Ibumu sendiri.
Vina                : Ibu tolong keluar dari kamarku sekarang juga.
Ibu Rahma      : Nak, Solat dulu. Ini sudah mau magrib nak.
Vina                : (Emosi) VINA NYURUH KELUAR YA KELUAR!!!
Ibu Rahma      : Tapi nak…!!
Vina                : APA PERLU AKU USIR DARI KAMAR INI!!!       
Ibu Rahma      : Baik, Ibu keluar sekarang juga. Ibu maklumin kondisimu. Tapi ibu minta setelah ini kamu solat ya nak.

Bu rahma pun meninggalkan kamar Vina. 

Sabtu, 06 Juli 2013

berita institusia


Semrawutnya Parkiran di Fakultas Dakwah
Pagi hari, sekitar jam setengah delapan pagi dimualailah awal untuk mengikuti pembelajaran pada jam pertama. Terlihat beberapa mahasiswa sudah berada di kampus Fakultas Dakwah. Ada yang berjalan kaki lewat belakang kampus, ada yang berjalan kaki lewat depan Kampus 3. Bahkan ada juga yang menggunakan transportasi motor melewati jalan kampus 3. Semakin siang, Fakultas Dakwah pun semakin ramai oleh para mahasiswa. Beberapa para mahasiswa yang berangkat untuk mengikuti perkuliahan dengan menggunakan sepeda motor pun terkadang seenaknya saja memakirkan motornya di depan taman Fakultas Dakwah. Bahkan, ada pula yang entah sengaja maupun tidak, mereka memarkirkan motor mereka di parkiran Dosen yang terletak di samping kanan kantor PKM Wadas. Padahal di situ tertulis “Parkiran Khusus Dosen dan Karyawan”. Hal tersebut mengakibatkan kesemrawutan tata parkiran yang terdapat di Fakultas Dakwah sendiri. Anehnya, para mahasiswa seakan apatis dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan tanpa ada seorang pun yang menegur kebiasaan ini.
Ali Yafi’e, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2010 membenarkan hal tersebut. Menurutnya, Kurang memadainya sarana dan prasarana menjadi penyebab dari semrawutnya Fakultas Dakwah tersebut. “Disini lahan tempat parkirannya sangat kurang sekali. Selain itu, tempat-tempat parkiran Fakultas Dakwah itu tidak ada yang jaga. Takutnya ketika ada yang kehilangan helm, jaket atau apalah itu siapa yang bertanggung jawab?” tuturnya.  Ia juga menambahkan bahwa Dekan juga harus bertanggung jawab dalam mengatur dan mengelola kesemrawutan system parkiran yang ada di Fakultas Dakwah. “Dekan harus bertanggung jawab dalam mengatur dan mengelola tempat parkiran. Karena kalau yang mengatur mahasiswa kurang efektif karena kurang memadai” tuturnya. Lebih lanjut, ia juga menyarankan agar memperluas sarana parkiran dengan system yang lebih maju. “Syukur-syukur ada penjaganya biar tidak ada yang kehilangan-kehilangan helm atau apapaun meskipun itu hal yang sepele” tuturnya.
Melirik di sekitar kampus dua, tepatnya di sebelah dari Kampus Tiga dimana Di kampus tersebut terdapat dua Fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin. Di kampus tersebut tata parkiran sudah terlihat rapi. Hal tersebut dikarenakan sudah disediakan lahan parkiran yang luas dan tertata rapi dan selalu dipantau setiap hari oleh satpam. Abdul Ahwandi, Mahasiswa angkatan 2009 yang bekerja sebagai satpam di Kampus 2 pun mengamini hal tersebut. “Sistem tersebut (parkiran di Kampus 2 IAIN Walisongo-red) memang sudah dari dulu dan sudah turun temurun, jadi kita tinggal menerapkannya saja” tuturnya. Ia menjelaskan system seperti ini tujuan untuk menciptakan lingkungan yang rapi dan kondusif, khusunya dimulai dari lahan parker, menciptakan suasana yang enak dipandang dan mudah dipantau serta diamankan. “Alhamdulillah selama ini belum ada complain dari para mahasiswa, mereka pun mengerti tentang budaya tertib” tambahnya. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa perlunya lahan untuk CCTV (kamera pengawas) untuk mempermudah mengontrol adanya kemalingan yang terjadi di kampusnya. “Selama ini kita sudah mengajukan saran tentang penerapan kamera CCTV kepada dekan-dekan yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin. Alhamdulillah direspon dengan baik dengan menempatkan lokasi-lokasi tertentu di beberapa titik saja” tambahnya.
Melihat system parkiran yang terdapat di kampus dua sudah sepatutnya kita mulai menerapkan system parker tersebut. Apalagi, sebentar lagi kita sudah akan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) bukan lagi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Juga Fakultas Dakwah pun telah menjadi Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan menambahkan satu bidang program studi, yaitu program studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Sudah sepatutnya bahwa parkiran yang terdapat di Fakultas Dakwah perlu ditata dan dirapikan kembali agar terciptanya lingkungan yang rapi, enak dipandang, dan kondusif. (Ari Purwa)       

Resensi Tugas Missi


Agama Punya Seribu Nyawa
Judul               : Agama Punya Seribu Nyawa
Penulis             : Komarudin Hidayat
Penerbit           : Noura Books
Tahun Terbit    : Cetakan 1, April 2012
Tebal               : 281 Halaman
Presentator      : Muh. Dwi Ari Purwa*
Pada mulanya, kita secara umum mengenal dan memeluk agama karena pengaruh lingkungan keluarga dan tradisi yang mapan dalam masyarakat. Setelah melalui proses belajar, pergaulan, dan bertambahnya usia, seseorang tentunya akan memiliki alasan dan penjelasan lebih rasional mengapa memeluk agama, meskipun tidak semua keyakinan dan pengalaman beragama bias dijelaskan secara logis-rasional. Hal ini dikarenakan terkadang banyak dari kita yang menjalani laku kehidupan beragama berdasarkan rasa (dzauq), ketimbang pertimbangan rasional.
Dalam buku ini pun juga diterangkan mengenai dalam setiap agama ada pandangan dan mazhab yang berbeda. Namun, keragaman mazhab di dalam agama merupakan keniscayaan yang mestinya kita syukuri. Ragam agama dan mazhab itu bagaikan ratusan sungai yang mengalir dari berbagai arah melewati daratan, lembah, dan pegunungan yang berbeda-beda. Dimana tentunya tiap-tiap sungai tersebut memiliki nama, panjang dan kedalaman yang berbeda-beda namun bermuara pada satu tujuan, yakni samudra. Bahkan setiap sungai pun memiliki jenis virus dan sampah yang berbeda-beda tetapi samudera tak pernah menolak kehadiran sungai-sungai tersebut. Bahkan, berbagai virus dan sampah yang datang dari sungai-sungai tersebut pun dinetralisir dan dihempaskan ke daratan.
Bahkan, di dalam buku ini pun menceritakan tentang peristiwa Al-Qur’an sebagai kitab umat muslim yang turun ke bumi yang disebut sebagai peringatan Nuzulul Qur’an yang diperingati setiap ramadhan. Di sini, penulis memaparkan bahwa peristiwa tersebut sulit sekali dijelaskan dengan akal sehat karena tidak mungkin Al-Qur’an turun ke bumi seperti turunnya hujan dari langit karena langit itu bermakna banyak, dan hanya sebagian kecil saja dari miliaran planet yang mengapung di alam semesta. Dan peristiwa tersebut hanya dialami oleh Nabi Muhammad. Saw dan mirip dengan Isra’ Mi’raj dimana para sahabat tidak ikut di dalamnya. Tujuan dari peringatan Nuzulul Qur’an itu sendiri adalah agar pesan yang disampaikan melalui petunjuk dari Al-Qur’an bias direnungkan, difahami, dinalar, kemudian menjadi keyakinan serta membuahkan perbuatan amal baik dan amal saleh pada hati dan pikiran setiap manusia.
Dalam dunia tasawuf dikenal istilah manunggaling kawula lan gusti, yang berarti suasana batin seorang hamba yang merasa sangat cinta dan dekat dengan tuhan sehingga merasa lebur dan menyatu dengan-Nya ibarat meleburnya gula dengan air di antara keduanya tidak bisa dipisahkan. Logika ini juga dikenal dalam teori kepemimpinan Jawa bahwa pemerintahan akan menjadi baik, tenteram, makmur kalau hati penguasa dan rakyat telah menyatu dan berada dalam gelombang yang sama. Dalam era demokarasi, formula yang lebih tepat adalah manunggaling kawula gusti, bukan kawula lan gusti, dimana di sini yang lebih aktif adalah pihak penguasa yang mampu menyelami, memahami, dan memahami apa yang dirasakan oleh rakyatnya.
Penulis ini pun juga memaparkan tentang membahas problem ketuhanan ketika dalam suatu forum dialog antar umat beragama dengan membagi tiga pertanyaan. Pertama, apakah Tuhan yang kita imani dan kita sembah itu sama atau berbeda. Kedua, bumi yang kita tempati dan matahari yang memancarkan cahaya itu milik Tuhan siapa? Ketiga, Mengingat setiap umat beragama meyakini dan mengharapkan nantinya masuk surga, apakah setiap agama memiliki surge dan neraka masing-masing atau keduanya itu hanya utuk semua manusia? Dan ternyata setelah terkumpul jawaban mereka cukup beragam antara pertanyaan pertama, kedua, dan ketiga dari sekitar dua ratus peserta yang secara mayoritas beragama Islam.
Kemudian, penulis membahas problem di atas dilihat dari analisis psikologi beragama, bahwa bagaimana pandangan dan sikap seseorang terhadap orang lain yang berkeyakinan berbeda. Maka dari itu, penulis berkesimpulan, mengapa ada seseorang yang begitu ramah dan toleran dalam beragama, dan mengapa ada ada orang yang beragama serta bertuhan dengan mudah marah melihat orang yang berbeda agama, bahkan mengganggapnya sebagai musuh yang mesti dihancurkan, padahal mereka tidak saling kenal dan tidak mengganggu dalam kehidupan sosialnya.  
Menurut Mahmud Jabiry, ada tiga ideology yang menjadi sumber dinamika sejarah Islam, yaitu kabilah, ghanimah, dan akidah. Sejak masa pra-Islam hingga kini, semangat ideologi, identitas kabilah, suku dan etnis masih kental dan memiliki peran signifikan dalam dinamika sosial dunia Islam. Ada pandangan, kehadiran Islam seharusnya menghilangkan ideologi kabilahisme, dan semua Muslim menjadi suatu komunitas seiman yang disebut Ummah. Arti kata ghanimah adalah harta pampasan, keuntungan dan peperangan. Dalam sejarah Islam, mereka yang ikut berperang  tidak semuanya dimotivasi agama, tetapi ada yang karena menginginkan harta pampasan. Bahkan, godaan untuk mengumpulkan ghanimah ini pernah terjadi semasa Rasulullah dalam perang Uhud sehingga tentara Islam kalah perang karena beberapa pos strategis untuk menghadang musuh ditinggalkan, demi berebut harta pampasan.
Perpaduan spirit membela kabilah dan mengejar ghanimah, dibalut dengan misi keagamaan (akidah), juga secara nyata ditunjukkan oleh imperialisme dan kapitalisme Barat pada abad lalu yang memperluas daerah koloni sambil menyebarkan agama. Namun, yang kini cukup menonjol adalah motivasi ghanimah dan samar-samar didukung sentiment nasionalisme (neo-kabilah) dan keyakinan agama (akidah).
 Si penulis pun juga menjelaskan tentang skeptisme terhadap agama dimana di Indonesia ada yang membuat perbedaan tegas antara agama dari Tuhan melalui Rasul-Nya dimana pesan illahi itu kemudian diabadikan ke dalam kitab suci. Sementara itu, yang kedua tidak mengenal konsep ketuhana dan kerasulan sama sekali. Kemudian, si penulis menjumpai kalangan kota yang tertarik belajar Islam karena merasa kecewa melihat materi dan metode dakwah yang dirasakan kurang tepat bagi kalangan intelektual yang menjalani lingtas agama. Agama kemudian menjadi pemisah dan sumber kecurigaan serta persaingan yang tidak sehat dalam kutur sebuah perusahaan dan perkantoran yang mengakibatkan terkikisnya profesionalitas dan produktivitas kerja serta menciptakan suasana yang tidak sehat. Seharusnya, agama menjadi pendorong untuk berlomba dalam berprestasi, sebagai tali pengikat persahabatan yang saling menghargai perbedaan, bukan penyebar suasana pengap, ruwet, curiga, dan saling gertak.
Di akhir kalimat, penulis menceritakan tentang agama yang tidak akan pernah mati dan tak pernah hilang dari zaman ke zaman dengan berbagai cara dan ragamnya. Apalagi para pemikir modern memperkirakan bahwa agama akan mati dengan sendirinya, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sudah maju. Karena, mereka beranggapan bahwa ketika persoalan hidup bisa dijawab dan diselesaikan dengan IPTEK, Tuhan tak lagi diperlukan. Tetapi, ramalan itu meleset, hingga muncul ungkapan agama memiliki seribu, sejuta nyawa, bahkan nyawanya pun tidak terbatas. Hal ini disebabkan pada kenyataannya, begitu banyak persoalan hidup yang tidak bisa dijawab oleh IPTEK modern. Bila keadaan demikian, maka manusia lari berbondong-bondong mencari agama.