Minggu, 25 Desember 2011

Makalah siroh


1.      Pengertian Mukjizat
Mukjizat menurut lughah ialah “melemahkan” atau “segala sesuatu yang melemahkan”. Sedangkan menurut istilah atau yang lazim dipakai di sisi para ahli agama, mukjizat ialah keadaan-keadaan dan kejadian-kejadian yang menyalahi kebiasaan atau yang luar biasa yang dilakukan oleh seorang nabi atau rasul Allah. Atau, mukjizat adalah sesuatu yang melemahkan kekuatan atau kesanggupan manusia, baik kekuatan lahir maupun batin, kekuatan jasmani maupun ruhani. Sehingga, seluruh manusia tidak akan mampu melakukan, menandingi, menyerupai, menolak atau menentangnya. Dengan kata lain, mukjizat itu ialah sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri seorang nabi atau rasul Allah dalam rangka mendakwahkan dirinya sebagai nabi atau rasul Allah, dan seorang manusia pun tidak akan mampu melakukan yang sepertinya.
Dalam Al-Qur’an dan Hadits, kata “mukjizat” itu tidak ada. Menurut istilah Al-Qur’an, mukjizat itu dinamakan dengan “ayat” atau “burhan”, yaitu tanda bukti atau keterangan yang jelas. Sedangkan para ulama ahli hadits menanamkan mukjizat itu dengan Dalaa-ilun nubuwwah “tanda-tanda sebagai bukti kenabian”[1]

2.      Macam-macam Mukjizat
Mukjizat dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu mukjizat kauniyyah, mukjizat syakhsiyyah, mukjizat salbiyyah  dan mukjizat ‘aqliyyah.
1)      Mukjizat kauniyyah  adalah mujizat yang berkaitan dengan peristiwa alam, seperti dibelahnya bulan menjadi dua oleh Nabi Muhammad saw dan dibelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa a.s. dengan tongkat.
2)      Mukjizat syakhsiyyah adalah mukjizat yang keluar dari tubuh seorang nabi atau rasul, seperti air yang keluar dari celah-celah jari Rasulullah saw.;  cahaya bulan yang memancar dari tangan Nabi Musa a.s., serta penyembuhan penyakit buta dan kusta oleh Nabi Isa a.s.
3)      Mukjizat salbiyyah adalah mukjizat yang membuat sesuatu tidak berdaya, seperti ketika Nabi Ibrahim a.s. dibakar oleh raja Namrud. Akan tetapi, api itu tidak mampu membakarnya.
4)      Mukjizat ‘aqliyyah adalah mukjizat yang rasional atau masuk akal.  Contoh satu-satunya adalah Alquran.[2]
Al-Qadhi’ Iyadh menjadikan mukjizat menjadi 2 macam, yaitu sebagai berikut :
Pertama, yang termasyur dan tersebar, yaitu yang diriwayatkan oleh sejumlah orang dan beritanya tersebar di kalangan para ahli hadits, periwayat, dan para penyampai sirah (sejarah) dan berita, misalnya mukjizat keluarnya air dari celah-celah jari-jari Rasulullah saw, dan bertambahnya makanan. Mukzijat jenis ini sangat banyak dan seringkali terjadi di kerumunan umat islam di tengah pasukan, yang kemudian setelah itu tidak ada dari para sahabat perkataan yang bertentangan dengan cerita yang diriwayatkan tersebut, tidak ada bantahan terhadap berita bahwa bahwa mereka telah melihat mukjizat yang dimaksud. Diamnya orang yang tidak berbicara sama seperti perkataan orang yang berbicara karena para sahabat tidak mungkin diam terhadap suatu kebatilan atau bertenggang rasa terhadap suatu kebohongan, padahal tidak ada suatu keinginan yang dikejar atau ketakutan yang menghalangi mereka untuk berbuat.
Kedua, yang khusus, maksudnya yang dilihat oleh satu atau dua orang yang kemudian diriwayatkan orang banyak dan tidak tersebar (mashyur) seperti tersebarnya yang lain. Meskipun demikian jika digabungkan dengan yang menyerupainya maka akan bertemu dalam satu makna dan akan bersatu dalam memberitakan terjadinya suatu mukjizat. Keseluruhan itu memberikan satu kepastian bahwa Rasulullah SAW telah diberikan sangat banyak kejadian yang luar biasa (mukjizat), sebagaimana sudah pasti adanya Hatim, keberaniannya Ali, dan keadilan Umar, walaupun bila dilihat secara individu hanya Zhanniah ‘dugaan’ dan diriwayatkan secara ahad.[3]  
Mukjizat itu oleh Allah diberikan kepada orang-orang yang dipilih dan ditetapkan oleh-Nya menjadi nabi dan rasul-Nya, sejak mereka diangkat menjadi nabi dan rasul sampai hari wafat mereka, kecuali sebagian mukjizat nabi Muhammad SAW, karena sebagian mukjizat beliau ini ada yang diberikan sejak beliau diangkat menjadi utusan dan langsung berlaku sampai akhir zaman.
Adapun tujuan dan manfaat mukjizat itu diberikan kepada para nabi dan rasul Allah ialah untuk menguatkan seruan dan pendakwaan mereka sebagai nabi dan rasul Allah kepada umat mereka masing-masing, terutama kepada orang-orang yang belum atau tidak mau percaya kepada kenabian dan kerasulan mereka. Juga untuk menebalkan kepercayaan dan keyakinan orang-orang yang telah percaya.[4]
3.      Banyaknya mukjizat Nabi Muhammad SAW
Kedua pembagian mukjizat itu juga diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw dengan sebanyak-banyaknya melebihi apa yang telah diberikan-Nya kepada para nabi dan rasul yang terdahulu. Sebab, beliau adalah seorang nabi dan rasul Allah yang:
1.      Menjadi penutup sekalian nabi dan rasul Allah;
2.      Diutus oleh Allah kepada segenap manusia, bukan kepada suatu bangsa sebagaimana rasul yang datang sebelumnya;
3.      Diutus terhadap segenap bangsa manusia di dunia, yang sedang menempuh berbagai macam bidang kemajuan. Misalnya, maju dalam urusan bahasa Arab, berfikir tentang keadaan alam, dan pengetahuan. Karena itu, mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw adalah berbagai macam bentuknya, baik yang hisysyah maupun ma’nawiyah.


[1] Chalil, Moenawar, K.H. 2001. Kelengkapan tarikh Nabi Muhammad. Jakarta : Gema Insani, hal : 461-462.
[3] Hamadah, Faruq, Prof. DR. 1998. Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah. Jakarta : Gema Insani, hal : 58-59.
[4] Chalil, Moenawar, K.H., Op.cit, hal: 462.

RASULULLAH SEBAGAI USWATUN KHASANAH YANG SEMPURNA



A.    Hal Ihwal Rasul sebagai Uswatun Khasanah
Al Qur’an menjelaskan dalam Q. S. Al- Ahzab: 21

Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah atau suri tauladan yang  baik mencontohkan sifat-sifat diantarannya adalah :
1.      Akhlak islamiyah (Taqwa)
Adalah taat kepada Allah dan ingin mendapat pahala dari Dia, dan juga mengandung pengertian takut kepada Allah dan takut kepada siksanya dengan arti yang luas. Dalam Q. S Al- Maidah: 8 dijelaskan bagaimana menjadi seorang yang bertaqwa:

Ciri-ciri akhlak islamiah
a.       Kebajikan yang mutlak
Yaitu bersih deari mementingkan diri sendiri/mengutamakanj segolongan manusia terhadap orang lain/bersih dari memenuhi ajakan hawa nafsu dan pengaruh lingkungan.
b.      Kebaikan yang menyeluruh
Ialah menjamin kebaikan untuk seluruh umat manusia disegala zaman dan semua tempat dan bahwasannya akhlak islamiah itu mudah dan gampang.
c.       Kemantapan
Ahlak islamiyah itu ditandai dengan sifat tetep, langgeng dan mantap
d.      Kewajiban yang dipatuhi
2.      Kegemaran Nabi Kepada Akhlak yang Mulia
Bahwa Rasulullaah  SAW. dipilih oleh Allah dari rumpun yang termulia dan dipelihara oleh Allah pada masa kecilnya dan masa remajanya,sampai dipilih menjadi seorang pemberikabar gembira dan peringatan,beliau dipelihara dan dididik dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan firman Allah Q. S. Al-A’raf 199


3.      Keberanian
Keberanian Rasulullah SAW akan jelas kepada kita bbahwa keberanian beliau lebih tinggi nilainya daripada sekedar masalah takut mati, karena Rasulullah SAW  dalam menghadapi mati itu tidak sekedar untuk membela diri tetapi keberanian beliau adalah untuk membela agama, membela yang hak, membela sahabat, membela nilai-nilai yang tinggi yaitu risalah yang beliau bawa.
Rasulullah SAW bukan saja seorang yang berani tetapi baliau adalah menjadi contoh dalam keberanian buktinya beliau adalah orang yang berani dalam waktu damai, berani dalam peperangan, berani dalam keadaan sendiri, berani dalam keadaan pembelaan-pembelaannya hanya sedikit, berani dalam jamaahnya, berani dalam keadaan banyak kawan, berani terus terang dalam membela yang hak dan berani dalam membela akidah apapun akibat yanng timbul dari padanya.
Allah menjelaskan dalam Q. S. At-Taubah 41

              Beberapa Hal Ihwal Rasulullah SAW diatas adalah mencerminkan betapa Nabi Muhammad adalah uswatun Khasanah yang smpurna. Selain sifat-sifat yang diatas terdapat banyak lagi sifat Rasulullah SAW yanng menunjukan kebaikan yaitu pemurah (Al Karam), adil (Al ‘adl), ‘iffah (Al ‘iffah), benar (AshShidqu), amanah (Al Amanah), sabar (As Shabru), lapang hati (Al Hilmu), pemaaf (Al ‘Afwu), kasih sayang (Ar Rahman), mengutamakan perdamaian (Itsarus Salam), zuhud (Az Zuhdu), malu (Al Haya), tawadu’ (At Tawadhu’), kesetiaan (Al wafa), musyawaroh (Asy Syura), kebaikan pergaulan (Thiibul ‘Isyrah), cinta bekerja (Hubbul ‘Amal), kesukaan dan lelucon (Al Bisyru Wal Fukahah).

B.     Akhlak Umat Islam seharusnya
Dalam era modern sekarang ini, akhlak seolah-olah hanya sebagai slogan daam menilai karakter seseorang. Banyak terlihat dengan jelas di sekitar kita bagaimana pola pergaulan yang bahkan dilakukan oleh umat islam sendiri menyimpang dari esensi dan nilai akhlak. Meningkatnya angka kriminalitas, justru banyak dilakukan oleh orang islam yang selalu mengaku dan mendengungkan akhlak sebagai dasar dakwah dan pergaulan dalam islam.
Seharusnya sebagai umat islam yang baik memiliki akhlak yang kaffah dan berakhlak alkarimah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.